Festival Desa TIK 2016, Bangun Desa Melalui Perangkat Digital

Festival Desa TIK adalah sebuah Festival TIK rakyat perdesaan untuk menggerkan partisifasi komunitas desa dengan memperdayaakan potensi desa melalui pemanfaatan TIK secara cerdas, kreatif dan produktif.  Kegiatan ini juga merupakan forum komunikasi dan berbagi antara pemangku kepentingan pemberdayaan desa yang akan menampilkan best practice desa-desa yang telah berhasil memanfaatkan TIK dalam proses pembangunan. Festival Desa TIK 2016 merupakan sebuah festival yang mempertemukan para penggiat IT di Indonesia mulai dari Pemerintah, bisnis, komunitas dan lainnya tujuan agar memperdekatkan masyarakat dengan dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Festival Desa TIK merupakan salah satu dari perwujudan Nawacita butir ketiga, yakni ‘Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan’. Selain memberikan bantuan material seperti peralatan teknologi (komputer, kabel, dan lain-lain), sumber daya manusia di desa juga harus dipersiapkan sehingga mereka memiliki kualitas baik pada kemampuan teknis seperti pemahaman pemanfaatan internet. Gelaran Festival Desa TIK ke-4 atau Destika akan berlangsung di Kalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura Tanggal 28-30 September 2016.

Direktur Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Septriana Tangkary mengatakan Salah satu rencana kami adalah mengimplementasikan program lima tahap: desa bersuara, desa mandiri teknologi, desa pelayan publik, desa kelola sumber daya, dan desa mandiri-berdaulat.

Dalam kesempatannya Anggota Komisi II DPR Budiman Sudjatmiko mengatakan Festival Desa TIK merupakan festival tahunan yang ditujukan untuk memberdayakan komunitas desa agar mereka lebih partisipatif dan produktif melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Festival Desa TIK menjadi sangat penting karena dengan desa dipastikan memiliki alat atau medium untuk menjadi mampu atau capable. Dia menambahkan Komunitas pedesaan akan banyak tertolong melalui proses belajar dari materi yang diberikan dalam festival ini. “Kota banyak gula namun kurang oksigen, sedangkan desa banyak oksigen namun kurang gula, maka dari itu harus ada hubungan timbal balik yang baik antara desa dan kota,” kata. Dia memaparkan, banyak rencana yang sudah dipersiapkan untuk memberikan pertolongan dan asistensi kepada masyarakat desa. “Kami sudah mempersiapkan aplikasi eyeball yang memungkinkan masyarakat desa untuk mendapatkan teknologi yang terkonvergensi, serta men-supply bandwidth rendah yang terjangkau sehingga mereka mendapatkan kemudahan”.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Hanibal Hamidi menegaskan, desa online telah menjadi komitmen Kementerian Desa. Pihaknya pun sudah memetakan banyaknya desa yang belum tersedia infrastruktur memadai. “Kita harus bekerja sama sehingga pembagian peran dalam pelaksanaan program-program TIK desa akan lebih jelas dan mudah,”

Dalam pertemuan yang digelar di Kantor Staf Presiden itu, hadir pula anggota Komisi II DPR Budiman Sudjatmiko dan Direktur Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Hanibal Hamidi. Dalam kesempatan Festival Desa TIK kali ini, diharapkan platform bukan hanya menjadi bahan yang difokuskan, namun kontennya juga. “Kita harus mengingat bahwa teknologi hanyalah medium, sedangkan unsur manusia adalah jiwa yang dapat menghidupi teknologi itu,” kata Ariani Djalal, Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan.  Ia berharap agar Festival Desa TIK di Papua dapat menjadi role model ideal yang bisa dicontoh dan diterapkan oleh desa-desa lainnya. “Kita harus rencanakan bersama bagaimana teknologi bisa menjadi metode blusukan yang menyentuh semua masyarakat di desa,” ( Sumber : ksp.go.id )(dishubkominfo.banjarkab.go.id)